Seumur hidup, saya sendiri belum pernah menginap di Rumah Sakit sebagai pasien. Tapi menginap sebagai teman si pasien, sepertinya sudah cukup sering. Rasanya kita semua sepakat bahwa tidak ada yang suka berlama-lama di Rumah Sakit. Mungkin itu adalah salah satu tempat yang paling dihindari nomor dua setelah kantor polisi. Tapi yang namanya kondisi kadang memang mengharuskan seseorang untuk menetap lebih lama di hotel bergaya medis itu.
Diantara kondisi Rumah Sakit yang memang dari awal membuat kita tidak betah berlama-lama. Ada kondisi tambahan dari faktor eksternal yang membuat saya (dan mungkin juga kalian) dilematis, antara jengkel dan juga salut. Kondisi itu adalah rombongan/kompi/pleton penjenguk yang datang semena-mena. Semena-mena dari segi jumlah, semena-mena pula dari segi waktu.
Biasanya model-model penjenguk ini datang dengan menyewa kendaraan besar, mulai dari mobil pick-up, truk, hingga bus tua yang suka batuk-batuk. Pemandangan semacam ini akan dengan mudah ditemui di beberapa Rumah Sakit Daerah. Rumah Sakit yang biasanya sangat longgar jam kunjung hingga membuat saya berpikir bahwa kondisi ini memang disengaja untuk memfasilitasi animo masyarakat yang tinggi terkait kegiatan besuk-membesuk.
Dulu saya menyimpan haru melihat budaya semacam, meilhat betapa pedulinya mereka terhadap pasien. Namun, semakin dewasa saya mulai semakin rikuh dengan kebiasaan macam ini. Hal yang tidak hanya saya rasakan sendiri, tapi juga oleh keluarga si pasien yang mana juga keluarga saya. Tapi apa daya, rasa rikuh atau pekewuh itu toh hanya akan berakhir menjadi keluhan saja, tidak pernah benar-benar akan disampaikan langsung oleh yang berkepentingan.
Pengalaman ini mulai sering saya rasakan ketika memutuskan untuk kuliah di tanah kelahiran orang tua saya, yaitu di Jawa. Sekali waktu, saudara sepupu saya menjalani operasi mata karena kecelakaan dan kondisi itu memaksa dia untuk menginap di Rumah Sakit lebih dari 2 minggu. Seperti yang diduga sebelumnya, sanak keluarga dan tetangga bergiliran mengunjungi tak henti-henti. Bahkan saya yang dengan kondisi sehat sekalipun akan sulit berisitirahat karena kondisi riuh yang hampir tidak berhenti.
Pernah suatu hari, ada penjenguk yang datang tepat di waktu subuh. Rentang waktu yang biasanya dipakai untuk buang air, mengumpulkan nyawa, cuci muka, dan shalat akhirnya dialokasikan untuk menyambut penjenguk yang telah repot-repot meluangkan waktunya itu. Entah bagaimana bisa penjenguk itu lolos (atau memang sengaja diloloskan) dari pengawasan satpam. Dan entah bagaimana pula sang penjenguk terpikir untuk menjenguk di pagi hari yang bahkan matahari pun masih tidur.
Di waktu yang lain, saya mengalami kondisi yang cukup untuk membuat saya melongo dan mengeluh dalam diam. Waktu itu, Pakde (paman) saya dirawat di rumah sakit karena stroke. Kamar yang ditempatinya adalah kamar kelas 3 yang dalam satu ruangan ada 6-8 bilik. Saya tidak berharap ruangan itu menjadi ruangan yang tenang karena memang itu kelas paling ekonomis. Tapi apa yang saya lihat waktu itu melebihi ekspektasi saya mengenai hal-hal mengganggu di Rumah Sakit.
Baru kurang lebih 5 menit saya di ruangan itu, mendadak ada rombongan/masa penjenguk yang jumlahnya saya perkirakan lebih dari 25 orang datang untuk membesuk pasien di bilik sebelah. Tidak main-main, mereka datang bukan hanya sekadar menengok keadaan pasien, tapi juga mengajak ustadz untuk memimpin doa berjamaah mendoakan kesembuhan si pasien. Alhasil, ruangan itu penuh dengan suara ‘’amin’’ yang menyahuti doa sang ustadz. Meski tidak sering, saya sendiri pernah ikut beberapa pengajian. Tak disangka bahwa euforia pengajian bisa sampai masuk ke bilik Rumah Sakit. Nurani dan logika saya sering bertengkar jika melihat situasi ini. Ada kalanya saya benar-benar bisa maklum dan ada kalanya rasa rikuh itu berubah jadi jengkel.
Terlepas dari perilaku yang unik tersebut, saya yakini bahwa niat mereka sangatlah baik, dan sering terlalu baik. bagaimana tidak, ketika saudara saya yang dioperasi dirawat. Hampir tiap hari orang tuanya pulang membawa tumpukan makanan dan minuman buah tangan dari penjenguk, tidak tanggung-tanggung, saking banyaknya barang yang diberi, orang tuanya harus membawa mobil pick-up. Jumlah barang yang jika saya kalkulasikan cukup untuk modal membuka warung kecil. Itupun belum termasuk yang berbentuk uang.
Padahal jika melihat kehidupan para penjenguk sehari-hari, saya yakin bahwa barang atau uang yang mereka beri itu sebenarnya jumlah yang sangat besar bagi mereka. Tapi betapapun begitu, rasanya karakter mereka sudah dibentuk dari dulu agar tidak bisa untuk tidak memberikan uluran tangan bagi kerabat dan tetangga dekat yang sedang susah. Dan betapapun kita terusik dengan kebiasaan nyeleneh mereka, jika mengingat kembali rasa empati mereka kepada pasien, secara otomatis rasa rikuh dan jengkel itu mendadak luntur juga.
Artikel ini pernah dimuat di Mojok.co
Tidak ada komentar:
Posting Komentar