Selasa, 03 November 2020

Sanksi Kejahatan Perang: Hanya Berlaku bagi Si Kalah?

 

            Norma dan etika tidak hanya berlaku bagi kehidupan sosial sehari-hari, dalam kondisi konflik seperti perang sekalipun, manusia dituntut untuk mengedepankan kemanusiaan. Sedikit paradox memang, ketika dalam keadaan membunuh atau dibunuh para prajurit juga harus memikirkan nasib musuh dan orang disekitarnya. Namun hal paradox ini nyatanya memang diperlukan, bukan hanya untuk membatasi korban yang jatuh tapi juga sebagai upaya pengukuhan bahwa kemanusiaan harus diutamakan dalam kondisi apapun. 

           Dalam sejarahnya, aturan ini kemudian diakomodir lewat Hukum Den Haag dan Hukum Jenewa yang mengatur norma dan etika tentang tata cara berperang, perlindungan sipil maupun kombatan, serta asas kemanusiaan yang perlu dipatuhi pihak yang bertikai.

           Menelisik ke konflik masa lalu, tentunya tidak akan lepas dari  Perang Dunia II, peristiwa yang menjadi salah satu tragedi terbesar dalam sejarah manusia. Peristiwa yang menggambarkan betapa mengerikannya sebuah konflik antar negara. Genosida, pemerkosaan, dan perbudakan, menjadi catatan kelam Perang Dunia II. Memori yang menjadi penanda bahwa perang adalah hal yang sebisa mungkin harus dihindari.

         Sebelum membahas lebih jauh, mari sepakati bahwa Jerman dan Jepang menjadi negara antagonis dalam peristiwa tersebut, terlebih kedua negara sudah mengakui dan meminta maaf atas peristiwa yang pernah terjadi. Bahkan para penjahat perang dari Nazi maupun Jepang sudah diadili lewat lembaga ad hoc yaitu International Military Tribunal (IMT) di Nuremberg dan Military Tribunal for the Far East (IMTFE) di Tokyo. Inisiator  persidangan tersebut tidak lain adalah aliansi sekutu yaitu Amerika, Perancis, Uni Soviet, dan Inggris.

            Jika IMT dan IMTFE dilaksanakan  berdasar asas keadilan dan penegakan hukum, maka menghukum pihak yang bersalah merupakan sebuah keharusan, siapapun pelakunya.  Terlebih jika kejahatan yang dilakukan menghilangkan ribuan bahkan jutaan nyawa. Namun, benarkah dalam kasus ini semua sama di mata hukum? Benarkah asas equality before the law berlaku pada peristiwa Perang Dunia II?

            Bila dilihat kembali pada persitiwa yang membuat Perang Dunia usai, maka tidak akan lepas dari tragedi bom nuklir oleh Amerika di Hiroshima dan Nagasaki. Setidaknya ada 140.000 nyawa penduduk sipil melayang dan belum termasuk yang mengalami sakit dan luka-luka. Lalu kenapa Amerika tidak mendapat perlakuan yang sama? Atau setidaknya meminta maaf kepada rakyat Jepang atas pembantaian masal yang telah mereka lakukan? Obama sendiri pada 2016 menolak meminta maaf atas pengeboman di Hiroshima dan Nagasaki, bahkan sebagian rakyat Amerika menilai pengeboman tersebut diperlukan untuk menyelamatkan Amerika bahkan Jepang.

            Apapun alasan yang diberikan, secara norma dan etika berperang tentu hal tersebut sangat salah dilakukan. Tetapi banyak pihak seolah menutup mata atas peristiwa yang terjadi dan membenarkan pembantaian. Menganggap itu hanyalah upaya balasan yang wajar dari Amerika atas serangan Jepang di pangkalan militer Pearl Harbour. 

            Lembaga peradilan permanen yang mengurusi kejahatan kemanusiaan saat ini sudah dibentuk. Bahkan hukum mengenai kejahatan perang tidak memiliki masa kadaluarsa, yang artinya para pelaku dapat diadili kapanpun. Namun tetap saja lembaga peradilan tidak berdaya untuk menyeret negara adi kuasa mempertanggungjawabkan perbuatannya.

            Ini menunjukkan bahwa hukum internasional sekalipun tidak sanggup mengusik negara adi kuasa. Alhasil, sanksi yang diberikan kepada Jerman dan Jepang tidak lagi murni dilihat sebagai penegakan hukum melainkan pertunjukan kekuatan negara pemenang perang. Hukum Den Haag dan Hukum Jenewa seolah hanya berupa aturan simbolis yang tidak mengikat. Tidak perlu diragukan jika Jerman dan Jepang melakukan kejahatan pada masa Perang Dunia II. Namun, status yang sama semestinya diberikan juga kepada Amerika atas pengeboman Hiroshima dan Nagasaki.


Kamis, 10 September 2020

Mengenang Kembali Transportasi Laut Busuk di Masa Lalu: Pengalaman yang Membuat Saya Hampir Mati

     Saya tidak tahu kapan tepatnya revolusi transportasi di Indonesia terjadi. Tapi jika menarik waktu ke beberapa tahun ke belakang, tepatnya awal dekade 2000an, pastinya banyak yang mengingat bagaimana busuknya transportasi pada masa itu. Terutama kereta dan kapal laut. 

Berhubung di Kalimantan sana tidak ada kereta, saya tidak pernah merasakan berjejal di kereta atau bahkan duduk di atas gerbong seperti yang dilakukan para penumpang di jaman itu. Semua situasi itu cuma saya liat di tv. Pengalaman pertama menaiki transportasi jarak jauh adalah dengan kapal laut. Maklum saja, di masa itu belum banyak yang sanggup pakai pesawat. Dan pengalaman menaiki transportasi busuk itu saya alami ketika baru berusia  6 tahun.

Sekitar tahun 2003, kami sekeluarga berencana mudik ke Jawa Tengah dari Kalimantan Barat, tepatnya kota Ketapang. Tujuannya saat itu adalah pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Waktu itu, transportasi yang paling masuk akal untuk dijangkau memang hanya transportasi laut. Lha bagaimana tidak, harga tiket kapal laut hanya 1/5 dari harga tiket pesawat.

Saya yang masih bocah sangat antusias menaiki besi raksasa yang bisa mengambang itu. Sejenak membayangkan kemegahaan kapal pesiar seperti di siaran tv. Membayangkan betapa serunya berada di laut lepas dengan lampu-lampu gemerlap di malam hari. Tapi antusiasme itu akhirnya berubah menjadi malapetaka. Dan tanda-tanda malapetaka itu mulai terlihat bahkan sebelum kami naik ke kapal.

Kami sekeluarga sudah sampai di pelabuhan pada siang hari dan jadwal keberangkatan saat itu sore hari (mungkin jam 3 atau jam 4), saya lupa tepatnya. Sampai waktu keberangkatan, belum ada tanda-tanda kapal akan bersandar di pelabuhan, suaranya pun tidak. Mulailah terdengar kabar kalau kapal yang saya nantikan itu ternyata karam di dekat muara. Ya, pelabuhan di kota Ketapang memang berada di daerah sungai dan kapal besar rawan karam karena sungai yang dangkal.

Kabar itu ternyata benar adanya, petugas pelabuhan meminta penumpang untuk menunggu sampai air pasang dan kapal bisa bergerak. Namun apesnya, hingga malam datang, kapal juga masih tidak bergerak. Tidak kehabisan akal, petugas kemudian menyiapkan ide ‘’brilian’’ nan jahanam yang kemudian saya sumpahi setiap teringat peristiwa itu lagi. Dan ide ‘’brilian’’ itu adalah mengangkut ratusan penumpang ke muara tempat kapal penumpang kandas dengan kapal tongkang. Ya, kapal tongkang yang umumnya dipakai untuk mengangkut batu bara atau barang tambang.

Ketika itu saya belum mengenal banyak kata-kata sumpah serapah. Kalau sudah tahu banyak sumpah serapah dan mahir menyumpah seperti sekarang, mungkin telinga petugas yang menggagas ide jahanam itu akan panas saya sumpahi.

Kalian bisa bayangkan ratusan orang harus menyusuri sungai yang lebarnya lebih dari 100 meter hingga ke pinggiran laut jawa dengan besi berbentuk persegi panjang yang diciptakan bukan untuk mengangkut manusia. Belum lagi, kapal tongkang tidak punya mesin dan bergerak karena ditarik kapal didepannya. Alhasil, butuh waktu lama untuk sampai di lokasi kapal penumpang.

Ketika gemerlap lampu kapal penumpang mulai terlihat dari kejauhan, jiwa anak kecil saya yang kampungan itu gembiranya bukan main. Tapi namanya ekspektasi, kadang memang diciptakan untuk bermusuhan dengan realita. Sekitar 50 meter sebelum kapal tongkang bersandar di lambung kapal penumpang, terlihatlah wujud asli kapal penumpang itu.

Kapal penumpang itu tidak ubahnya seperti onggokan besi tua yang siap dikilokan. Jika diibaratkan manusia, kapal itu seperti nenek-nenek yang dipaksa berenang. Aroma karatnya saja mampu mengalahkan bau angin laut.

Tepat saat kapal tongkang sudah menempel dengan kapal penumpang, ratusan penumpang berbondong-bondong berebut naik ke kapal. Orang tua saya tak kalah sigap dalam usaha berebut naik ke kapal. Namun naasnya, ketika akan menaiki tangga, badan saya yang kurus kering terpental-pental ditabrak para penumpang lain dan terpisah dari orang tua. kemudian terhimpit di lambung kapal. Saya berteriak dan menangis sejadi-jadinya. Dada saya sesak luar biasa dihimpit orang-orang berbadan besar.

            Bajingan betul, tidak ada seorang pun penumpang yang peduli dengan bocah kerempeng itu. Rasanya mereka lebih peduli untuk berebut tempat yang nyaman dibanding menyelamatkan nyawa bocah yang kelak bisa saja menjadi menteri itu.

            Waktu berfantasi soal keindahan kapal seperti di film, saya sepertinya lupa bahwa film-film tentang kapal sering berujung tragis. Untungnya, Tuhan sedang tidak mengamini fantasi itu. Saat nafas hampir menipis karena terjepit, orang tua saya lekas menyelamatkan saya. Selain sukses menyelamatkan anaknya, orang tua saya juga sukses menyelamatkan bangsa dari kehilangan sosok revolusioner macam saya.

            Tapi ternyata kejadian yang membuat saya hampir mati baru bagian seremonial saja. Karena ketika sampai di atas, rupanya ruang khusus penumpang nyaris penuh. Bahkan sudah ada penumpang yang tidur di geladak dan buritan kapal. Kami sekeluarga akhirnya menempati lorong dekat kamar mandi yang berarti harus bersandingan dengan bau pesing lebih dari 48 jam. Bau yang akhirnya membuat kami sekeluarga tak bernafsu untuk makan dan lebih memilih menahan lapar

            Emosi anak-anak saya memuncak dan kemudian bersumpah, ‘’Besok-besok tidak ada lagi ceritanya naik kapal. Kalau masih naik kapal laut mending tidak ikut.”

             Tapi kondisi ekonomi memang bedebah. Tahun berikutnya dan tahun-tahun setelahnya saya tetap naik kapal yang busuknya tidak jauh beda. Ahh, saya gagal menepati sumpah pertama di hidup saya.

Artikel ini pernah dimuat di mojok.co

 

Mencoba Memahami Gerakan Jenguk Pasien Berjamaah: Antara Jengkel dan Juga Salut

 

Seumur hidup, saya sendiri belum pernah menginap di Rumah Sakit sebagai pasien. Tapi menginap sebagai teman si pasien, sepertinya sudah cukup sering. Rasanya kita semua sepakat bahwa tidak ada yang suka berlama-lama di Rumah Sakit. Mungkin itu adalah salah satu tempat yang paling dihindari nomor dua setelah kantor polisi. Tapi yang namanya kondisi kadang memang mengharuskan seseorang untuk menetap lebih lama di hotel bergaya medis itu.

            Diantara kondisi Rumah Sakit yang memang dari awal membuat kita tidak betah berlama-lama. Ada kondisi tambahan dari faktor eksternal yang membuat saya (dan mungkin juga kalian) dilematis, antara jengkel dan juga salut. Kondisi itu adalah rombongan/kompi/pleton penjenguk yang datang semena-mena. Semena-mena dari segi jumlah, semena-mena pula dari segi waktu.

            Biasanya model-model penjenguk ini datang dengan menyewa kendaraan besar, mulai dari mobil pick-up, truk, hingga bus tua yang suka batuk-batuk. Pemandangan semacam ini akan dengan mudah ditemui di beberapa Rumah Sakit Daerah. Rumah Sakit yang biasanya sangat longgar jam kunjung hingga membuat saya berpikir bahwa kondisi ini memang disengaja untuk memfasilitasi animo masyarakat yang tinggi terkait kegiatan besuk-membesuk.

            Dulu saya menyimpan haru melihat budaya semacam, meilhat betapa pedulinya mereka terhadap pasien. Namun, semakin dewasa saya mulai semakin rikuh dengan kebiasaan macam ini. Hal yang tidak hanya saya rasakan sendiri, tapi juga oleh keluarga si pasien yang mana juga keluarga saya. Tapi apa daya, rasa rikuh atau pekewuh itu toh hanya akan berakhir menjadi keluhan saja, tidak pernah benar-benar akan disampaikan langsung oleh yang berkepentingan.

            Pengalaman ini mulai sering saya rasakan ketika memutuskan untuk kuliah di tanah kelahiran orang tua saya, yaitu di Jawa. Sekali waktu, saudara sepupu saya menjalani operasi mata karena kecelakaan dan kondisi itu memaksa dia untuk menginap di Rumah Sakit lebih dari 2 minggu. Seperti yang diduga sebelumnya, sanak keluarga dan tetangga bergiliran mengunjungi tak henti-henti. Bahkan saya yang dengan kondisi sehat sekalipun akan sulit berisitirahat karena kondisi riuh yang hampir tidak berhenti.

            Pernah suatu hari, ada penjenguk yang datang tepat di waktu subuh. Rentang waktu yang biasanya dipakai untuk buang air, mengumpulkan nyawa, cuci muka, dan shalat akhirnya dialokasikan untuk menyambut penjenguk yang telah repot-repot meluangkan waktunya itu. Entah bagaimana bisa penjenguk itu lolos (atau memang sengaja diloloskan) dari pengawasan satpam. Dan entah bagaimana pula sang penjenguk terpikir untuk menjenguk di pagi hari yang bahkan matahari pun masih tidur.

            Di waktu yang lain, saya mengalami kondisi yang cukup untuk membuat saya melongo dan mengeluh dalam diam. Waktu itu, Pakde (paman) saya dirawat di rumah sakit karena stroke. Kamar yang ditempatinya adalah kamar kelas 3 yang dalam satu ruangan ada 6-8 bilik. Saya tidak berharap ruangan itu menjadi ruangan yang tenang karena memang itu kelas paling ekonomis. Tapi apa yang saya lihat waktu itu melebihi ekspektasi saya mengenai hal-hal mengganggu di Rumah Sakit.

            Baru kurang lebih 5 menit saya di ruangan itu, mendadak ada rombongan/masa penjenguk yang jumlahnya saya perkirakan lebih dari 25 orang datang untuk membesuk pasien di bilik sebelah. Tidak main-main, mereka datang bukan hanya sekadar menengok keadaan pasien, tapi juga mengajak ustadz untuk memimpin doa berjamaah mendoakan kesembuhan si pasien. Alhasil, ruangan itu penuh dengan suara ‘’amin’’ yang menyahuti doa sang ustadz. Meski tidak sering,  saya sendiri pernah ikut beberapa pengajian. Tak disangka bahwa euforia pengajian bisa sampai masuk ke bilik Rumah Sakit. Nurani dan logika saya sering bertengkar jika melihat situasi ini. Ada kalanya saya benar-benar bisa maklum dan ada kalanya rasa rikuh itu berubah jadi jengkel.

            Terlepas dari perilaku yang unik tersebut, saya yakini bahwa niat mereka sangatlah baik, dan sering terlalu baik. bagaimana tidak, ketika saudara saya yang dioperasi dirawat. Hampir tiap hari orang tuanya pulang membawa tumpukan makanan dan minuman buah tangan dari penjenguk, tidak tanggung-tanggung, saking banyaknya barang yang diberi, orang tuanya harus membawa mobil pick-up. Jumlah barang yang jika saya kalkulasikan cukup untuk modal membuka warung kecil. Itupun belum termasuk yang berbentuk uang.

            Padahal jika melihat kehidupan para penjenguk sehari-hari, saya yakin bahwa barang atau uang yang mereka beri itu sebenarnya jumlah yang sangat besar bagi mereka. Tapi betapapun begitu, rasanya karakter mereka sudah dibentuk dari dulu agar tidak bisa untuk tidak memberikan uluran tangan bagi kerabat dan tetangga dekat yang sedang susah. Dan betapapun kita terusik dengan kebiasaan nyeleneh mereka, jika mengingat kembali rasa empati mereka kepada pasien, secara otomatis rasa rikuh dan jengkel itu mendadak luntur juga.

 Artikel ini pernah dimuat di Mojok.co

Sanksi Kejahatan Perang: Hanya Berlaku bagi Si Kalah?

                 Norma dan etika tidak hanya berlaku bagi kehidupan sosial sehari-hari, dalam kondisi konflik seperti perang sekalipun, ma...